Nikmatnya Kupat Tahu Bu Ratih

Kompas.com - 19/02/2010, 17:31 WIB

KOMPAS.com - Masakan tradisional kupat tahu seperti di Magelang, ternyata juga ada di Banyumas. Hanya bagi masyarakat setempat di Banyumas, ada yang menyebutnya kupat tahu, tetapi ada juga yang menyebutnya sebagai tahu gejot. Bedanya lagi, kupat tahu versi Banyumas ini tidak menggunakan bumbu kacang, tetapi hanya menggunakan gula merah.

Jadi, walaupun penampilan masakannya hampir sama, rasanya tetap berbeda. Satu hal yang menarik, saat kupat tahu Banyumas disajikan, tempe mendoan yang menjadi makanan favorit orang Banyumas tak pernah ketinggalan. Begitu juga kerupuk mireng warna kuning yang berbentuk sama dengan kerupuk mi tetapi terbuat dari singkong.

Biasanya makanan ini dijajakan keliling dengan menggunakan gerobak. Ada juga yang menggunakan pikulan. Namun jika ditanya soal kupat tahu Banyumas, sebagian besar orang Banyumas akan merujuk pada kupat tahu Bu Ratih di kota lama Banyumas, tepatnya berada di belakang pasar Banyumas.

Warung kupat tahu Bu Ratih ini cukup teduh karena digelar dibawah pohon ketapang yang rindang. Dapurnya ditempatkan secara terbuka di muka warung, sehingga pelanggannya bisa langsung pesan.

Saat mencicipinya, kita tak akan mengira kalau sajian kupat tahu yang hanya dibuat dengan kuah gula merah ini begitu nikmat saat sampai di lidah. Tambah sedap lagi karena disantap bersama tempe mendoan.

Kupat tahu ini terasa nikmat, tidak hanya karena kuahnya yang terbuat dari gula merah asli dari nira kelapa murni, tetapi juga racikan bumbu pendukungnya, antara lain garam, cabai rawit merah, dan bawang putih.

Semua bahan dan bumbu kupat tahu ini ditempatkan dalam wadah terpisah-pisah, yang diletakkan di atas meja dapur. Untuk meraciknya, disiapkan cobek besar dan sebuah talenan.

Cobek besar digunakan untuk mengulek bumbu yang pedas, yakni gula merah ditambah bawang putih dan cabai rawit merah. Sementara untuk bumbu yang tidak pedas yakni gula merah dan bawang putih, cukup diulek di atas talenan, yakni hanya gula merah dan bawang putih.

Bumbu-bumbu ini digunakan untuk menguatkan cita rasa pada racikan bahan kupat tahu yang terdiri atas tauge, rajangan kubis, tahu goreng, dan potongan ketupat. Sebagai tahap akhir, bahan-bahan tersebut disiram dengan air gula merah yang dimasak dengan ditambahi sedikit garam.

Agar lebih nikmat, di atas kupat tahu ini tak lupa ditaburi kerupuk mireng yang diremukan. Kerupuk ini memberikan rasa renyah di antara tauge dan rajangan kubis yang lembut karena telah melalui proses perebusan.

Satu porsi kupat tahu ini dijual seharga Rp 4.000, tapi itu diluar kerupuk mireng dan tempe mendoan. Jika ditambah mireng dan tempe mendoan, harga satu porsinya menjadi Rp 5.000.

Setiap hari tak kurang dari 125 porsi habis terjual. Menurut Ratih (49), pelanggan masakannya itu umumnya pelanggan lama, puluhan tahun lalu, sejak warung kupat tahu itu dikelola ayahnya mulai tahun 1956.

"Pelanggan banyak yang tinggal diluar kota, kalau pulang kampung ke Banyumas pasti menyempatkan mampir ke warung saya," katanya.

Oh ya, buat penikmat kupat tahu, jangan berharap bisa mendapatkan makanan khas Banyumas ini diatas pukul 14.00. Karena warung Bu Ratih ini hanya buka dalam waktu singkat kurang dari empat jam, yakni mulai pukul 11.00 sampai pukul 14.00 pada hari biasa. Hari libur sampai pukul 13.00. Jangan sampai enggak kebagian.... (Madina Nusrat)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau